Waspadai Hipertensi dalam Kehamilan dan Pencegahannya

Waspadai Hipertensi dalam Kehamilan dan Pencegahannya

Waspadai Hipertensi dalam Kehamilan
gunanya.com | Waspadai Hipertensi dalam Kehamilan

gunanya.com- Hipertensi dalam kehamilan merupakan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai kehadirannya oleh ibu hamil. Pasalnya, selain mempengaruhi kehamilan, hipertensi juga berpengaruh besar terhadap kesejahteraan janin. Perlu diketahui bahwa ada jenis hipertensi yang muncul hanya pada saat hamil saja. Betul bahwa hipertensi tidak selalu terjadi pada semua ibu hamil, meski demikian, mengetahui informasi seputar hipertensi berikut pencegahan dan penatalaksanaannya sedari awal tentu saja banyak memberi manfaat.

Kehamilan merupakan momen penting yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh banyak ibu. Perhatian pun lantas tercurahkan sepenuhnya untuk sang calon buah hati. Banyak upaya dilakukan demi menjaga kesehatan dan kesejahteraan selama hamil. Salah satunya dengan mewaspadai berbagai kemungkinan penyakit yang bisa mempengaruhi kesehatan selama hamil, termasuk hipertensi.

Pengertian Hipertensi dalam Kehamilan

Hipertensi dalam kehamilan adalah tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmHg sistolik (tekanan saat jantung berkontraksi) atau 90 mmHg diastolik (tekanan saat jantung berelaksasi). Kondisi tersebut ditegakkan usai dilakukan pemeriksaan tekanan darah minimal sebanyak dua kali berjarak 4-6 jam.

Ada beberapa kondisi yang menjadikan seorang ibu hamil lebih berpotensi terkena penyakit ini. Misalnya ibu dengan kehamilan kembar, diabetes melitus, obesitas, hidramnion, faktor keturunan, dan lainnya. Apabila seorang ibu hamil diketahui mengalami tekanan darah tinggi, pemeriksaan urine akan segera dilakukan untuk mengetahui adakah di dalamnya terdapat kandungan protein. Hal ini dilakukan untuk menunjang penegakan diagnosa lanjutan.

Jenis-jenis Hipertensi yang Muncul selama Kehamilan

Berikut ini akan dijelaskan tentang jenis-jenis hipertensi dalam kehamilan. Perlu dipahami tentang karakteristik masing-masing karena ada beberapa perbedaan ciri dan penanganannya. Langsung saja, mari kita simak jenis-jenis hipertensi pada ibu hamil sebagai berikut:

1. Hipertensi Kronik

Adalah hipertensi (tekanan darah =140/90 mmHg) tanpa adanya kandungan protein di dalam urine yang timbul sejak sebelum hamil dan menetap usai persalinan. Ibu hamil dengan hipertensi kronik dianjurkan untuk memperbanyak istirahat dan rajin memeriksakan tekanan darah.
Perlu diperhatikan khususnya pada beberapa ibu yang telah terbiasa mengonsumsi obat penurun hipertensi sejak sebelum hamil, perlu untuk mengonsultasikan lebih lanjut kepada tenaga medis, dokter ataupun bidan, karena ada beberapa obat antihipertensi yang tidak dianjurkan dikonsumsi oleh ibu hamil.

2. Hipertensi Gestasional

Adalah hipertensi (tekanan darah =140/90 mmHg) tanpa adanya kandungan protein di dalam urine yang timbul setelah kehamilan menginjak usia 20 minggu dan akan menghilang usai persalinan. Hipertensi ini bisa disertai dengan nyeri ulu hati dan trombositopenia (berkurangnya keping darah).

Ibu dengan hipertensi gestasional perlu rutin memantau tekanan darah, kondisi, dan perkembangan janinnya. Ibu juga perlu mewaspadai kemungkinan gejala preeklampsia dan eklampsia yang bisa saja timbul. Suplementasi kalsium dan aspirin biasanya akan diberikan, tentu saja sesuai dengan arahan dokter.

3. Preeklampsia

Adalah kondisi hipertensi dalam kehamilan dengan disertai protein dalam urine. Preeklampsia biasa muncul pada usia kehamilan 20 minggu atau lebih dan sering terjadi pada kehamilan muda pertama. Gejala preeklampsia dapat berupa sakit kepala hebat, nyeri pada ulu hati, gangguan penglihatan misalnya pandangan kabur. Namun hal tersebut tidak mesti selalu dialami.

Dalam beberapa kasus bahkan gejala awal preeklampsi tidak dapat dirasakan oleh pasien sendiri. Oleh karena itu, di sinilah salah satu peran dan fungsi penting pemeriksaan selama kehamilan (Antenatal Care). Preeklampsia yang tidak tertangani secara baik akan beralih menjadi eklampsia.

Preeklamsia digolongkan ke dalam dua jenis, yakni:

  1. Preeklampsia Ringan, Adalah penyakit hipertensi dalam kehamilan dengan tekanan darah =140/90 mmHg pada usia kehamilan >20 minggu disertai dengan hasil pemeriksaan protein urine +1. Perbaikan preeklampsia ringan bisa dilakukan dengan istirahat penuh dan pemberian obat penenang atas rekomendasi dokter.

  2. Preeklampsia Berat, Adalah penyakit hipertensi dalam kehamilan dengan tekanan darah >160/110 mmHg pada usia >20 minggu disertai dengan hasil pemeriksaan protein urine =+2. Pada preeklampisa berat bisa disertai dengan keterlibatan organ lain seperti trombositopenia, oliguria, edema paru, gagal jantung, pertumbuhan janin terhambat, dll.

4. Eklampsia

Adalah preekelampsia yang disertai dengan kejang. Tanda dan gejala yang dialami mirip dengan preeklampsia. Eklampsia dapat terjadi apabila kondisi preeklampsia tidak tertangani dengan baik. Jika kondisi sudah mengarah pada eklampsia maka perlu berhati-hati dan waspada mengingat eklampsia masih menjadi salah satu penyumbang besar angka kematian pada ibu.

Bahaya Hipertensi dalam Kehamilan yang Wajib Diwaspadai

Hipertensi yang dialami oleh ibu hamil sedikit banyak akan berdampak pada kesehatan baik bayi maupun ibu sendiri. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi karena adanya hipertensi dalam kehamilan, di antaranya sebagai berikut:

  1. Berkurangnya pasokan aliran darah ke plasenta – Terganggunya sistem sirkulasi darah praktis mengakibatkan juga terganggunya aliran darah menuju ke plasenta.

  2. Gangguan pertumbuhan janin – Kurangnya asupan nutrisi dan oksigen yang cukup pada janin dapat mengakibatkan gangguan pada pertumbuhan janin.

  3. Berat bayi lahir kecil – Kurangnya pasokan nutrisi ke janin sangat berpotensi mempengaruhi berat bayi saat lahirnya.

  4. Kelahiran prematur – Dalam beberapa kasus hipertensi, kelahiran prematur dapat terjadi. Hal ini berkaitan dengan kondisi ibu yang membutuhkan pengakhiran kehamilan segera meskipun kondisi janin belum terlalu siap (dalam kondisi prematur). Hal ini untuk menyelamatkan nyawa baik ibu maupun bayi.

  5. Berpotensi terjadi kematian bayi – Hipertensi kehamilan yang tidak tertangani dengan baik dapat memicu berbagai masalah kesehatan berikut pada bayi bahkan dapat menimbulkan kematian.

  6. Berpotensi terjadi gangguan kardiovaskuler pada ibu – Munculnya hipertensi dalam kehamilan dapat memicu berbagai penyakit kardiovaskuler. Hal ini bisa dipicu karena kondisi preeklampsia maupun kelahiran prematur sebelumnya.

Berbagai Tindakan Pencegahan yang Dapat Dilakukan

Mengingat cukup berbahayanya hipertensi dalam kehamilan, maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk seminimal mungkin menekan angka kejadiannya. Beberapa hal yang bisa diupayakan di antaranya sebagai berikut:

1. Perbaikan Nutrisi

Melakukan diet rendah garam (tidak lebih dari ¼ – ½ sendok teh per hari), tinggi protein, serta suplemen kalsium perlu dilakukan. Hindari konsumsi rokok, kafein, serta minuman beralkohol. Hindari juga makanan yang diawetkan serta makanan dalam kaleng. Jaga selalu berat badan tubuh agar tidak masuk dalam kategori obesitas. Konsultasikan kepada ahli gizi jika diperlukan.

2. Olahraga yang Teratur

Olahraga penting dilakukan untuk mengatur kondisi tubuh untuk senantiasa bugar. Olahraga yang dianjurkan antara lain seperti jalan-jalan pagi. Selain segar, jalan-jalan pagi juga dapat memenuhi asupan oksigen bagi janin yang cukup fresh di pagi hari.

3. Obat-obatan Medis

Tenaga medis dalam hal ini bidan atau dokter akan memberikan obat-obatan untuk mengontrol tekanan darah bagi ibu hamil yang terindikasi memiliki tekanan darah tinggi. Di antaranya seperti obat-obat macam obat antihipertensi, aspirin, heparin, dll. Konsumsi obat-obat ini tentu saja harus atas anjuran dokter.

4. Memperbanyak Istirahat

Diperlukan istirahat yang cukup setidaknya selama 6-8 jam tiap harinya. Istirahat yang cukup mampu meningkatkan suasana rileks sehingga tekanan darah dapat terkontrol. Selain itu, istirahat sekaligus merupakan salah satu upaya untuk mengendalikan stress.

5. Rutin Memeriksakan Kehamilan

Beberapa kondisi hipertensi selama kehamilan ditemui tidak serta merta dengan gejala yang dapat dirasakan oleh ibu. Oleh karenanya, penting sekali melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin pada tenaga kesehatan baik bidan maupun dokter sehingga kondisi dan perkembangan kehamilan dapat terpantau dengan baik.

Dianjurkan bagi seorang ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan setiap minimal satu bulan sekali pada trimester I (usia kehamilan 0-12 minggu), tiap dua minggu sekali pada trimester II (usia kehamilan 12-24 minggu), dan setiap seminggu sekali pada trimester III (usia kehamilan >24 minggu).

Pada prinsipnya, hipertensi dalam kehamilan bisa diupayakan pencegahan salah satunya dengan menjaga pola hidup yang sehat. Selain itu, pemeriksaan rutin selama hamil penting dilakukan untuk memantau perkembangan kesehatan ibu dan janin. Demikian tadi informasi seputar hipertensi dalam kehamilan, semoga bermanfaat. Mungkin artikel dengan judul Penting untuk kesehatan ibu hamil yang perlu diketahui, menarik juga untuk dibaca.

Related Posts

Comments
Silahkan, saya ga nggigit !

Artikel Update